Okbaik- Perubahan landscape sektor perikanan global yang bergeser dari eksploitasi tangkap menuju sistem budidaya berkelanjutan menempatkan akuakultur sebagai salah satu sektor strategis dalam pembangunan ekonomi maritim Indonesia.
Kebutuhan akan sumber daya manusia yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap inovasi dan dinamika lingkungan, menjadi semakin mendesak. Dalam konteks ini, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun menghadirkan pendekatan pendidikan yang dirancang untuk menjawab tantangan tersebut secara kontekstual.
Berbasis di Kampus II Unkhair, Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, program studi ini memanfaatkan posisi geografis Maluku Utara sebagai kawasan kepulauan dengan potensi perikanan yang besar. Lingkungan tersebut tidak hanya menjadi latar, melainkan bagian integral dari proses pembelajaran.
Mahasiswa berinteraksi langsung dengan praktik budidaya di lapangan, memahami karakteristik perairan, serta mengamati dinamika usaha akuakultur berbasis masyarakat. Pendekatan ini menempatkan wilayah pesisir dan laut sebagai ruang belajar yang memperkaya pengalaman akademik sekaligus memperkuat kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Koordinator Program Studi Budidaya Perairan, Fatma Muchdar, S.Pi., M.Si, mengatakan bahwa penguatan kurikulum diarahkan pada integrasi antara teori, praktik, dan inovasi. Menurut dia, sektor akuakultur membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami prinsip dasar budidaya, tetapi juga mampu mengembangkan teknologi serta melihat peluang usaha di tingkat lokal maupun regional.
“Kami mendorong mahasiswa untuk memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan kewirausahaan, sehingga tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang di sektor budidaya perairan,” ujarnya.

Dari sisi akademik, program studi ini didukung oleh 3 guru besar (profesor), 6 dosen bergelar doktor, dan 8 dosen bergelar magister. Komposisi tersebut menjadi basis pengembangan pendidikan dan penelitian yang berorientasi pada kebutuhan industri serta masyarakat.
Penguatan kapasitas dosen juga berperan dalam memastikan proses pembelajaran berjalan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya perairan.
Selain itu, orientasi program studi pada inovasi teknologi budidaya modern berbasis kepulauan menjadi salah satu pembeda utama. Mahasiswa dibekali kemampuan analisis, pengelolaan usaha, serta pemahaman terhadap prinsip keberlanjutan. Hal ini penting mengingat tantangan sektor perikanan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga efisiensi, lingkungan, dan daya saing.
Prospek lulusan dinilai terbuka luas seiring pertumbuhan sektor akuakultur. Lulusan dapat berkarier sebagai praktisi budidaya, mulai dari unit pembenihan (hatchery) hingga manajemen usaha (farm manager).
Selain itu, peluang sebagai wirausaha di bidang akuakultur, peneliti, akademisi, maupun aparatur sipil negara di sektor perikanan juga tersedia. Kebutuhan tenaga profesional di bidang ini diperkirakan terus meningkat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan pendekatan berbasis potensi wilayah dan penguatan kompetensi yang terintegrasi, Program Studi Budidaya Perairan Universitas Khairun menjadi salah satu alternatif pendidikan tinggi yang relevan dalam mendukung pengembangan ekonomi biru Indonesia.
Di tengah tuntutan transformasi sektor perikanan menuju sistem yang lebih berkelanjutan, peran institusi pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia menjadi faktor kunci.
Penerimaan mahasiswa baru dibuka melalui jalur mandiri dan dapat diakses secara daring melalui laman resmi PMB Universitas Khairun https://pmb.unkhair.ac.id. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui kontak program studi 0852-5681-1505 (Fatma Muchdar). (red)










Tinggalkan Balasan