Okebaik- Hamir 2 pekan lamanya, Bahan Bakar Minyak (BBM) di Halmahera Selatan mengalami kelangkaan. Kelangkaan ini membuat para nelayan terpaksa tidak bisa melakukan aktivitas mata pencarian.

Abdurrahim Hj Malik, salah satu nelayan asal Labuha mengaku, kelangkaan BBM ini mulai dua pekan lalu hingga saat ini masih mengalami kelangkaan. Sementara para nelayan membutuhkan BBM, baik itu pertalite, Pertamax, solar dan minyak tanah.

“Minyak tanah, bensi dan solar. Soalnya para nelayan ini tiap hari membutuhkan BBM. Torang sudah sekitar dua minggu tara kaluar mancari,” ungkap pria 30 tahun ini.

Selain memancing, ia juga membutuhkan BBM untuk mengambil ikan-ikan yang ada di bagan atau rompong untuk di jual ke pasar.

“Itu merupakan dampak buruk bagi kami para nelayan jika BBM tidak ada,” keluhnya.

Ia berharap pemerintah agar kedepannya tidak terjadi hal seperti ini lagi, ini membuat kami para nelayan stengah mati untuk mencari.

“Untuk pemerintah Harapan kami mungkin kedepan tidak begini lagi, kami nelayan stengah mati mau keluar untuk mencari, dan tidak ada minyak,” harapanya.

Keluhan juga disampaikan Setiawan Makalalag, warga Desa Gandasuli yang merupakan seorang nelayan mengeluh karena sudah dua pecan tidak bisa keluar mengais rezeki.

“Kami para nelayan ingin keluar memancing, tapi BBM sangat susah untuk didapatkan. Sementara para pengecer yang jualan di jalanan bisa mendapatkan, tapi kami para nelayan tidak bisa mendapatkan BBM itu,” keluhnya.

Torang nelayan ini mancari, kenapa kami kesulitan mendapatkan BBM. Padahal pengecer bisa dapat, tapi torang nelayan tidak bisa dapat,” sambungnya.

Setiawan mengaku, ketika  para nelayan membeli BBM di SPBU menggunakan ciregen ditolak, tapi kenapa para pengecer diterima.

Torang nelayan mau datang ke SPBU untuk membawa cerigen ditolak, kenapa yang pengecer-pengecer bisa dapa,” kesalnya.

Menurutnya, para pemerintah kurang memperhatikan para nelayan, sehingga untuk BBM saja susah didapatkan. Apalagi minyak yang dijual di depot-depot kecil itu per liter 20 ribu, dengan harga itu, kami para nelayan harus lari kemana agar bisa mendapatkan BBM.

“Nelayan ini tidak diperhatikan oleh pemerintah, nyatanya BBM saja susah untuk mau dapat,” cetusnya.

“Kami sudah tidak beraktivitas, ada yang hampir 1 minggu dan ada yang sudah hampir 2 minggu, kapal yang ada disini tidak bisa keluar semua, terus uang yang kita dapatkan dari mana. Jadi kalau tarda BBM kasiang tong pe ana bini mau makang apa,” keluhnya. (kin)