Okebaik– Langkah cepat Wali Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, M. Tauhid Soleman untuk menyelesaikan tuntutan warga Kelurahan Fitu, Kecamatan Ternate Selatan, terkait lahan kuburan, mendapatkan apresiasi dari warga dan juga massa aksi.
Mendengar ada aksi unjuk rasa yang dilakukan warganya terkait lahan kuburan seluas 1,5 hektar di Fitu, Tauhid Soleman turun mendengarkan langsung apa yang menjadi tuntutan wargnya di Kelurahan Fitu.
Usai mendengar dengan sabar satu persatu tuntan warga Fitu. Tauhid saat itu juga langsung menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 222/II.4/KT/2024 tentang Penetapan Lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kelurahan Fitu Kecamatan Ternate Selatan.
Diterbitkannya Perwali Nomor: 222/II.4/KT/2024 itu, maka warga Kelurahan Fitu sudah bisa memanfaatkan lahan seluas 1,5 hektar untuk dijadikan TPU atau lahan pekuburan.
Kepada Ketua LPM Fitu, Rusli Ahe mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Ternate memenuhi tuntutan warga Fitu.
“Saya atas nama warga dan pemuda serta massa aksi ingin menyampaikan terima kasih kepada pak wali kota yang sudah tanggap memenuhi tuntutan warga,” ungkapnya usai aksi unjuk rasa, Kamis (19/09/2024).
Menurutnya, setelah mendengar penjelasan Wali Kota Ternate tekait prosedur hibah lahan, barulah diketahui ada komunikasi yang putus.
“Setelah kita dengar semua, baru kita juga mengerti dan mengetahui hibah lahan itu sementara dalam proses dan ada beberapa persyaratan yanj juga harus kami (warga) siapkan. Insya Allah akan kami siapkan,” ucapnya.
“Meski begitu kami apresiasi pak wali. Sekali lagi atas nama warga Fitu kami sampaikan terima kasih, karena proses hibah masih jalan tapi pak wali sudah menerbitkan Perwali sehingga lahan itu sudah bisa dipakai untuk TPU,” tandasnya.
Sementara koordinator aksi, Hamdani Rais juga menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Ternate yang sudah merespon cepat permintaan warga.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf, jika selama aksi unjuk rasa ada bahasa dari massa aksi yang melewati batas.
“Saya mewakili teman-teman massa aksi mohon maaf ke pak wali kalau aksi tadi ada bahasa yang salah. Mohon maklum karena semua lagi emosi,” ucapnya.
Ia mengaku, ada komunikasi yan tidak ketemu antara warga dan pemerintah, sehingga ketika warga mendengarkan penjelasan tentan tahapan-tahapan hibah lahan baru ketahui prosesnya.
“Memang ada komunikasi yang putus. Setelah kita dengar ini baru kita mengerti. Kalau ini dari awal kita dengar pasti tidak ada gerakan seperti ini,” tanadsnya. (tr01)










Tinggalkan Balasan