Okebaik- Meski dengan keterbatasan fisik, bukan berarti keterbatasan pola pikir dan kekuatan, kalimat ini dapat dibuktikan oleh 13 siswa pelajar Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA LB) Negeri Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

Pelajar penyandang disabilitas di sekolah ini, mempunyai potensi yang luar biasa, dengan semangat belajar yang tinggi untuk berkarya, hal ini patut di apresiasikan. Para pelajar yang duduk di bangku kelas X, XI, dan XII ini, penyandang tuna daksa, tuna grahita, tuna rungu, tuna netra, low visual, tuna ganda, dan autis, mereka juga mampu membuat banyak kreasi bernilai ekonomis.

Dibawah kepemimpinan Kepala SMALB Kota Ternate, Mariani H. Tamrin, mereka diajarkan dan dilatih menanam sayuran organik juga membudidayakan ikan lele.

Selain itu, mereka juga memproduksi berbagai macam produk yang terbuat dari bahan baku lokal, yaitu, sirup pala, manisan pala, aneka kue dengan selai dari daging buah pala, cemilan stik pisang goroho serta, minyak virgin coconut oil (VCO).

Adapun produksi tanaman sayuran, kata Mariani, itu di tanam sendiri oleh para siswa dengan menggunakan metode hidroponik. Produk ini telah tembus sampai ke Hypermart dan pasar modern kota Ternate.

Selanjutnya, untuk produk cemilan stik pisang goroho dengan dua varian rasa, original dan barbeque serta minyak VCO, sudah dipasarkan di Swalayan Tara No Ate yang menjual aneka oleh-oleh khas Kota Ternate.

“Dengan jumlah siswa yang belasan itu, sudah bisa menghasilkan produk sebanyak ini, sudah berjalan mulai dari tahun 2023 sampai sekarang, yang dipasarkan di Swalayan Tara No Ate dan Hypermart,” ucap kepala sekolah yang biasa di sapa Nani, saat ditemui okebaik.id di ruang kerjanya, Senin (11/11).

Dari hasil penjualan produk itu, kemudian diputar untuk membeli kebutuhan-kebutuhan bahan baku untuk diproduksi, selain itu produk sudah terterah label halal dari MUI.

Menurutnya, di sekolah ini tidak ada biaya apapun (gratis), bahkan para siswa sangat antusias jika di ajak belajar sekalian dengan praktek.

Bukan hanya bidan pertanian dan produksi makanan, tapi ada juga beberapa siswanya akan dilatih bagian perbengkelan. Dan sementara masi dalam proses untuk di bawah ke SLB Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat yang memiliki alat praktikum.

Para siswa juga di ajarkan membuat sarapan dan makan siang, untuk dimakan di sekolah secara bersamaan. Mereka juga dilatih pantonim, menyanyi, melukis, dan menari.

Selama di sekolah, siswa sudah dibiasakan menunaikan ibadah salat berjamaah, mulai dari salat dhuha kemudian di lanjutkan sholat dzuhur. Saat sholat, mereka diimami oleh seorang guru agama, seiring berjalannya waktu, mereka pun di ajarkan sampai bisa mengimani teman-temannya.

“Jadi setiap aktivitas siswa kami di sini selalu kami laporkan kepada orang tua mereka melalui WhatsApp grup, supaya orang tua pun tahu apa saja yang dilakukan anak-anaknya di sekolah,” terang Nani.

Ia mengemukakan, tidaklah mudah menjadi guru bagi siswa berkebutuhan khusus, karena itu sebagian guru yang tidak bertahan lama, memutuskan untuk berhenti.

“Memperkuat kemampuan, menjadi guru SLB harus dengan hati yang tulus, keinginan yang kuat, bukan hanya mengandalkan kecerdasan semata,” jelas Nani.

Sebagai guru yang berpengalaman paling lama mengajar di SLB, mulai dari Kota Tidore Kepulauan hingga Kota Ternate, Nani mengaku bangga dan merasakan kebahagiaan tersendiri bisa mendidik siswa berkebutuhan khusus.

Para siswa bisa menjadi penghibur hati. Sebab itu, bagi Nani, Ia lebih senang berada di sekolah.

“Kadang kalau saya stres, lebih baik saya di sekolah, lihat anak-anak tersenyum saja saya jadi senang dan stres pun ikut hilang,” curhatnya.

Ia berharap, kepada pemerintah daerah agar kedepannya lebih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan para penyandang disabilitas. Baik pembangunan dan prasarana umum dan fasilitas-fasilitas bagi penyandang disabilitas yang memadai. (kin)