“Perencanaan atau persiapan kecil maupun besar, sangat penting dalam pembangunan daerah. Sebab, tanpa persiapan bahkan yang sekecil tali sepatu, dapat membuat anda terjatuh ketika berlari,” Sekretaris Daerah Kota Ternate, Dr. Rizal Marsaoly.
Okebaik- Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly memberikan materi kepada ratusan mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) yang mengikuti program Kuliah Berkarya Bermasyarakat (Kubermas) Tahap I Tahun 2025, Selasa (08/07/2025).
Orang nomor tiga di lingkup Pemkot Ternate itu, di hadapan ratusan mahasiswa Kubermas Unkhair membawakan materi tentang Strategi Pengembangan Kota dan Keberlanjutannya Untuk Kesejahteraan Masyarakat.
RM, sapaan akrab Rizal Marsaoly menekankan tentang pentingnya perencanaan dalam melakukan sesuatu, baik itu dalam pemerintahan, penyusunan suatu program, bahkan dalam pelaksanaan KKN ini pun sangat dibutuhkan perencanaan yang baik dan matang.
Untuk itu, mantan Kepala Bappelitbangda Kota Ternate itu mengawali materinya dengan memaparkan tahapan perencanaan pembangunan Kota Ternate hingga ditetapkan di APBD.
“Kita mulai dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), lalu dilanjutkan ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), kemudian Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), berikutnya Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS), dan terakhir APBD,” ungkap Rizal.
Rizal yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Tata Kota ini juga mengurai tentang Piramida Perencanaan Kota Ternate, mulai dari visi-misi, program prioritas, tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan dan program.
Di hadapan ratusan mahasiswa Kubermas Tahap I Tahun 2025, Rizal Marsaoly juga membedah lima isu strategis pembangunan daerah di Kota Ternate, pertama, Pembangunan SDM yang Berdaya Saing dan Inklusif.
Menurut Rizal, Ternate sedang berada dalam masa bonus demografi, tetapi potensi ini terancam sia-sia jika kualitas sumber daya manusia tidak ditingkatkan secara adil dan inklusif.

“Isu SDM ini strategis karena menyangkut fondasi dari semua transformasi: ekonomi, sosial, maupun tata kelola. Bila kita gagal di sini, maka upaya pembangunan di sektor lain pun akan rapuh,” ucapnya.
Kedua, Pertumbuhan Ekonomi yang Bernilai Tambah dan Inklusif. Bagi Rizal, ekonomi Ternate bergerak, tapi belum bertumbuh dengan inklusif. Komoditas yang dilabel “unggulan” belum memberi nilai tambah yang signifikan, city branding ‘Kota Rempah’ belum punya dampak konkret, dan sektor pariwisata serta UMKM belum menjadi penggerak utama kesejahteraan.
Ketiga, Infrastruktur Konektivitas dan Layanan Dasar yang Handal serta Merata. Rizal menegaskan, infrastruktur di Ternate masih belum menyentuh semua wilayah dan kebutuhan dasar warganya. Masih banyak lingkungan yang belum mendapat akses air minum aman, sanitasi aman, transportasi publik yang nyaman dan terjangkau, atau ruang publik yang ramah komunitas dan terjangkau. Sementara itu, konektivitas antarwilayah dan antara pusat-pinggiran masih timpang.
Keempat, Daya Dukung Lingkungan dan Resiliensi Bencana dan Perubahan Iklim. Sebagai kota kepulauan, kata Rizal, Ternate menghadapi tekanan ganda: degradasi lingkungan hidup dan peningkatan risiko bencana akibat perubahan iklim. Layanan dasar seperti air bersih masih belum merata, infrastruktur sanitasi yang tidak ramah lingkungan, pengelolaan sampah yang belum efektif, dan mitigasi bencana dalam kerangka kota tangguh belum nampak bentuk konkretnya.
Kelima, Reformasi Birokrasi, Transformasi Tata Kelola dan Digitalisasi. Meski tuntutan masyarakat terhadap layanan publik semakin tinggi, birokrasi kita belum sepenuhnya siap. Masih banyak sistem manual atau digital tapi terfragmentasi, layanan belum merata kualitasnya, dan integritas aparatur masih menjadi tantangan besar dalam proses transformasi institusional.
“Indeks Reformasi Birokrasi kita masih rendah. Isu ini sangat strategis karena pemerintah daerah adalah motor utama perubahan. Tanpa perbaikan tata kelola, visi sebesar apa pun hanya akan tinggal dalam dokumen tanpa dampak nyata bagi masyarakat,” jelas Rizal.
Rizal yang juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muslim Indonesia (IKA UMI) Provinsi Maluku Utara ini, memaparkan potensi wilayah sebagai modal dasar pembangunan Kota Ternate.
Kota Ternate, kata Rizal, letaknya strategis sebagai pusat kawasan Timur Indonesia. Tentu, Ternate menjadi jalur pelayaran dan distribusi barang antarwilayah di Maluku Utara dan sekitarnya, menjadikannya simpul logistik dan penghubung ke daerah hinterland seperti Tidore, Halmahera, Bacan, Obi, dan Morotai.

Selain itu, lanjut Rizal, Ternate memiliki potensi kelautan dan perikanan pesisir-pulau. Kawasan pesisir dan pulau seperti Batang Dua, Hiri dan Moti mendukung pengembangan perikanan tangkap, budidaya laut, dan pengolahan hasil laut. Ini adalah potensi ekonomi langsung bagi masyarakat pesisir, yang sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal.
Kemudian, Kota Ternate juga memiliki potensi pariwisata alam dan bahari yang Ikonik. Destinasi unggulan seperti Sulamadaha, Batu Angus, Danau Tolire, dan pantai-pantai eksotis lainnya menawarkan keunggulan komparatif untuk pengembangan pariwisata tematik, ramah lingkungan, dan berbasis masyarakat.
Rizal melanjutkan, Ternate memiliki warisan budaya dan jejak kota rempah dunia. Kota ini, bagi Rizal, menyimpan situs sejarah kelas dunia seperti benteng kolonial, keraton, dan situs rempah, menjadikannya pusat budaya dan sejarah kepulauan Maluku. Potensi ini mendukung sektor pariwisata, pendidikan sejarah, dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Berikutnya, Rizal menungkapkan, Ternate miliki potensi Geoheritage Vulkanik dan Pengembangan Geopark. Tentu, dengan 19 situs geoheritage yang telah ditetapkan secara nasional, termasuk lava bersejarah dan maar, Ternate memiliki potensi edukatif, ilmiah, dan pariwisata geologi yang dapat dikembangkan melalui geopark sebagai branding global.
Sekain itu, kawasan seperti Bandara Sultan Babullah, Pelabuhan Ahmad Yani, Water Front City, dan Kota Baru adalah pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan kawasan ini mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, jasa, dan perumahan perkotaan yang terencana
Terakhir Rizal Marsaoly berpesan kepada mahasiswa, perencanaan atau persiapan kecil maupun besar, sangat penting dalam pembangunan daerah. Sebab, tanpa persiapan bahkan yang sekecil tali sepatu, dapat membuat anda terjatuh ketika berlari. ***








Tinggalkan Balasan