Saat melintas di persimpangan Ngaralamo, tepat di depan Kedaton Kesultanan Ternate, mata saya tertuju pada baliho bertema Natal Nasional 2024: “Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem.”

Perpaduan unik antara baliho natal dan simbol kejayaan Islam ini seolah menjadi metafora harmonisasi antar-iman yang mengakar di Moloku Kieraha. Kalimat sederhana tersebut tidak hanya mengusik pikiran, tetapi juga membawa kembali memori saat mengikuti perkuliahan Kapita Selekta Dunia Arab yang diampu oleh Prof. Ibnu Burdah di ruang kelas 17 tahun silam saat studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kala itu, beliau dengan detail menjelaskan kompleksitas sejarah dan politik Timur Tengah, termasuk signifikansi historis kota Betlehem dalam dinamika kawasan tersebut. Lebih dari sekadar kota kecil di selatan Yerusalem, Betlehem merepresentasikan pertemuan kompleks antara linguistik, sejarah, dan spiritualitas yang telah membentuk wajah peradaban Timur Tengah selama berabad-abad.

Etimologi dan Dimensi Linguistik

Penelusuran etimologis Betlehem melalui rumpun bahasa Semitik mengungkapkan kedalaman makna teologis dan kultural. Dalam Bahasa Arab Bayt Lahm merupakan frasa yang kompleks. Ibn Manzur dalam Lisan al-Arab mengungkap, kata bayt mengandung makna dasar ‘menetap di malam hari’. Konsep ini kemudian berkembang menjadi tempat berlindung, berkumpul, dan pusat aktivitas komunal.

Kata lahm dalam Lughah al-Arabiyyah, sebagaimana dijelaskan Al-Khalil bin Ahmad dalam Mu’jam Al-‘Ain, tidak hanya berarti ‘daging’ secara harfiah, tetapi juga merujuk pada esensi kehidupan. Hal ini diperkuat oleh analisis Al-Azhari dalam Tahdhib al-Lughah yang menghubungkan kata ini dengan konsep kebutuhan nutrisi fundamental.

Dalam bahasa Ibrani, konstruksi Beit Lechem menunjukkan paralelisme makna yang menarik. Wilhelm Gesenius mengidentifikasi bahwa beit berasal dari akar Proto-Semitik bayt, sementara lechem berkaitan dengan akar laḥm. Joshua Blau dalam “Phonology and Morphology of Biblical Hebrew” (2010) menunjukkan bahwa kedua kata ini mempertahankan makna dasarnya sejak era Proto-Semitik, menegaskan signifikansi historis Betlehem sebagai pusat kehidupan dan keberlanjutan komunitas.

Kesamaan etimologis ini merefleksikan sejarah panjang interaksi bahasa-bahasa Semitik dan peran sentral Betlehem dalam perkembangan peradaban di kawasan Levant (Lebanon, Suriah, Yordania, dan Palestina).

Signifikansi Histori-Religius

Betlehem memiliki posisi unik dalam narasi tiga agama Abrahamik. Dalam tradisi Yahudi, kota ini memegang posisi istimewa sebagai tempat kelahiran Raja Daud (1040-970 SM). Kitab Rut mengabadikan narasi pertemuan Rut dan Boas di ladang-ladang Betlehem, sementara Nabi Mikha (abad ke-8 SM) menubuatkan kota ini sebagai tempat kelahiran Mesias. Kehadiran komunitas Yahudi di Betlehem telah terdokumentasi sejak era Bait Suci Pertama, menjadikannya salah satu pusat spiritual Yahudi tertua.

Tradisi Kristen menjadikan Betlehem sebagai lokasi sentral dengan kelahiran Yesus Kristus. Gereja Nativity, yang dibangun pada tahun 327 M atas perintah Kaisar Konstantinus, menjadi bukti fisik signifikansi ini. UNESCO mencatat Gereja Nativity sebagai situs Warisan Dunia pada tahun 2012, menggarisbawahi nilai universalnya bagi peradaban manusia. Struktur arsitektur gereja ini mencerminkan lapisan-lapisan sejarah yang telah dilaluinya, dari era Bizantium hingga periode modern.

Islam mengakui keistimewaan Betlehem melalui dua sumber otoritatif utama. Pertama, Al-Qur’an dalam Surah Maryam ayat 22-23 mengisahkan peristiwa kelahiran Nabi Isa AS dengan menggambarkan bagaimana Maryam mengasingkan diri ke tempat yang jauh dan melahirkan di dekat pohon kurma. Allah SWT berfirman: “Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, Wahai, alangkah (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

Kedua, lokasi spesifik Betlehem sebagai tempat kelahiran Nabi Isa AS ditegaskan melalui hadits riwayat An-Nasa’i dari Anas bin Malik RA. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj dimana beliau shalat di Bayt Al-Maqdish, tempat kelahiran Nabi Isa AS, sebelum kemudian memasuki Bayt Al-Maqdish dan menjadi imam para nabi. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tempat yang dimaksud dalam Al-Qur’an tersebut adalah Betlehem, yang memang merupakan bagian dari wilayah Bayt Al-Maqdish (Yerusalem) pada masa itu.

Perlindungan Islam terhadap Betlehem secara resmi dimulai saat Al-Uhda Al-Umariyyah (Deklarasi Umar) pada tahun 15 H/637 M. Dalam perjanjian tersebut, Khalifah Umar al-Faruq menulis: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia (Yerusalem): Dia memberikan mereka jaminan keamanan untuk jiwa dan harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka…”

Sejarawan Bernard Hamilton dalam “The Latin Church in the Crusader States” (1980) mencatat bahwa perjanjian ini menjadi model perlindungan tempat suci dalam sejarah Islam, yang menjamin keamanan tempat-tempat suci dan kebebasan beribadah bagi komunitas Kristen, baik di Yerusalem maupun di Betlehem.

Hubungan historis antara Betlehem dan Masjidil Aqsa, yang berjarak 8,5 kilometer, memiliki signifikansi khusus dalam sejarah Islam. Periode Dinasti Umayyah (661-750 M) dan Abbasiyah (750-1258 M) menandai era pengembangan infrastruktur yang menghubungkan kedua kota suci ini. Kesultanan Mamluk (1250-1517 M) melanjutkan tradisi ini dengan membangun fasilitas untuk para peziarah.

Era Ottoman (1516-1917) membawa perubahan signifikan dengan renovasi besar-besaran yang diperintahkan Sultan Suleiman I (1520-1566). Pada tahun 1517, Sultan Selim I mengeluarkan dekrit yang memperkuat status istimewa Betlehem melalui sistem waqf yang terintegrasi. Sistem administrasi Ottoman yang sophisticated memastikan perlindungan dan pemeliharaan situs-situs suci, sekaligus menjamin kebebasan beribadah bagi berbagai komunitas agama.

Realitas Kontemporer dan Urgensi Perdamian

Betlehem kontemporer menghadapi tantangan yang sangat serius. Pembangunan tembok pemisah oleh Israel sejak 2002 telah mengisolasi sekitar 38% area kota dari Yerusalem. United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) melaporkan pada tahun 2023, pembatasan ini telah melumpuhkan akses warga Palestina ke tempat-tempat ibadah, rumah sakit, dan pusat ekonomi. Situasi ini semakin memburuk dengan serangan Israel terhadap Gaza yang dimulai Oktober 2023, yang juga berdampak pada keamanan Betlehem.

Publik internasional telah banyak mengeluarkan pernyataan kecaman keras atas serangan Israel yang mengancam situs-situs bersejarah di Palestina. Dewan Keamanan PBB dalam resolusinya nomor 2720 (2023) juga mendesak Israel untuk menghentikan serangan dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina.

Perlindungan Betlehem tidak hanya menyangkut pelestarian warisan sejarah, tetapi juga penyelamatan nyawa manusia dan keberlangsungan dialog antar-iman yang telah terjalin selama berabad-abad. Seperti tercatat dalam Al-Uhda Al-Umariyyah, kota ini seharusnya menjadi simbol koeksistensi damai antar umat beragama, bukan arena konflik dan kekerasan.

Betlehem berdiri sebagai testimoni hidup dari kompleksitas dan kekayaan sejarah Timur Tengah. Dari perspektif etimologi hingga realitas kontemporer, kota ini menawarkan pelajaran berharga tentang potensi harmonisasi antaragama dan urgensi perdamaian. Betlehem tetap menjadi pengingat akan pentingnya dialog dan pemahaman mutual di tengah perbedaan.

Di tengah genting situasi Palestina saat ini, seruan untuk menghentikan kekerasan dan melindungi Betlehem bukan sekadar upaya melestarikan situs bersejarah, tetapi lebih dari itu merupakan perjuangan untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang telah memperkaya peradaban kita selama berabad-abad. Betlehem harus kembali menjadi “rumah kehidupan”, bukan arena konflik dan kekerasan.

“Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem”

#FreePalestine

 

Penulis: Rahmat

(Kepala Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Ternate)