Angka stunting di Kota Ternate menunjukkan penurunan signifikan pada tahun 2025. Dari data Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), prevalensi stunting di Kota Ternate, pada tahun 2024 berada di angka 21,1 persen. Jumlah ini menurun di tujuh bulan terakhir di tahun 2025 yaitu 16,6 persen.
Kabid Keluarga Berencana DPPKB Kota Ternate, Nursia Tidore, mengatakan penurunan ini tak lepas dari peran OPD yang terus memfasilitasi berbagai kegiatan dalam percepatan penurunan stunting.
“Termasuk peran beberapa OPD yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS),” kata Nursia belum lama ini.
Nursia menuturkan, dalam pelaksanaan program ini, TPK (Tim Pendamping Keluarga) yang terdiri dari Bidan Kelurahan, Kader PKK dan Kader KB yang menjadi ujung tombak di lapangan. Mereka melakukan pendampingan kepada empat kelompok sasaran utama. Antara lain, calon pengantin, Ibu hamil, Ibu nifas dan Baduta (bayi di bawah dua tahun)Jika ada kelompok sasaran yang terindikasi berisiko dan tidak bisa ditangani di Puskesmas, maka mereka akan direkomendasikan ke tim pakar.
“Tim pakar ini terdiri dari dokter spesialis kandungan, dokter anak, psikolog, dan ahli gizi. Selain pemeriksaan dari tim pakar, mereka yang berisiko juga mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang ditangani langsung oleh Dinas Kesehatan,” jelasnya.
Lebih lanjut ia memaparkan, pada tahap pertama tahun 2025, tidak ada Balita di bawah dua tahun (Baduta) yang direkomendasikan, karena untuk Baduta bisa ditangani dengan pemberian PMT dari Dinas Kesehatan.
Untuk sasaran ibu hamil di Pulau Hiri, terdapat dua orang yang direkomendasikan dari total ibu hamil yang memperoleh pendampingan. Mereka telah mendapatkan penanganan khusus dari tim pakar, terutama psikolog, karena faktor risiko psikologis. “Walaupun hanya dua yang berisiko, semua ibu hamil tetap didampingi dalam program ini,” tambah Nursia.
Sementara itu, pada tahun 2024, terdapat delapan Baduta yang ditangani oleh Tim Pakar. Semua kasus tersebut telah selesai ditangani melalui edukasi, pendampingan, integrasi program, dan pemberian makanan tambahan (PMT).
“Rinciannya, pada semester pertama tahun 2024, terdapat enam Baduta yang mendapatkan rekomendasi penanganan lanjutan dari dr. Ahli anak dan Ahli Gizi yang difasilitasi oleh OPD KB dan Dinas Kesehatan, dan pada semester kedua, terdapat dua Baduta yang juga ditangani,” pungkasnya.
Program ini menunjukkan keberhasilan dalam menurunkan angka stunting secara bertahap dan terarah, dengan fokus penanganan pada kelompok sasaran yang paling berisiko. (ata)










Tinggalkan Balasan