Okebaik- Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Dr. Ridha Ajam, M.Hum, berharap ada support anggaran dari pemerintah daerah terhadap kegiatan komunitas kreatif di Maluku Utara.
Hal itu Ridha sampaikan saat menghadiri kegiatan sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di Ballroom Muara Hotel Ternate yang diselenggarakan Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia, Senin (21/10/2024).
Menurut Ridha, dengan adanya kemajuan teknologi sekarang ini, maka siapapun bisa berkreasi, termasuk dalam membuat film. Seiring dengan itu, komunitas-komunitas kreatif yang didominasi kalangan Gen-Z di Maluku Utara pun tumbuh subur bersama hasil karyanya, termasuk di dunia perfilman.
“Bagaiman pemerintah kita mendorong kreativitas anak-anak muda di Maluku Utara ini, khususnya di Ternate untuk bisa membuat karya-karya itu dalam merealisasikan karya-karya itu, ide-ide mereka dalam bentuk karya, salah satu karyanya adalah film,” jelas Ridha.
Pemerintah daerah, kata Ridha, sedianya harus memberikan support kepada komunitas kreatif dengan mengalokasikan anggaran melalui dinas terkait, seperti dinas pendidikan dan dinas kebudayaan. Support penganggaran ini dimaksudkan, agar generasi muda yang tergabung dalam komunitas kreatif bisa terpacu untuk berkreasi lebih baik lagi.
“Soal aplikasinya di bidang seni apa, itu nanti kita lihat anak-anak muda kita itu passion-nya kemana. Jadi tidak harus spesifik harus ke film tapi bagaimana menyiapkan anggaran untuk mendorong anak-anak muda itu lebih berkreasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi,” jelasnya.
Menurut Ridha, dukungan pemerintah ini menjadi penting karena kreatifitas generasi muda saat ini bisa menjadi lapangan kerja baru. Apalagi, potensi materi perfilman atau kreasi generasi muda di Maluku Utara sangat kaya dan tinggal mendapat pemerintah daerah.
“Saya kira tergantung pemerintahnya bisa mendorong. Apalagi sekarang dinas kebudayaan itu sudah berdiri sendiri di Ternate, yah tinggal kita realisasikan bagaimana undang-undang pemajuan kebudayaan nomor 5 tahun 2017 itu, bisa kita dorong untuk anak-anak muda kita berkreasi berdasarkan nilai-nilai budaya kita,” paparnya.
Disamping itu, Ridha berharap, hadirnya LSF di Maluku Utara dalam kegiatan yang melibatkan banyak stakeholder ini tidak hanya sebatas sosialisasi, melainkan dapat memberikan pelatihan-pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) bagi komunitas perfilman. Sebab, selama ini komunitas perfilman di Maluku Utara sudah melahirkan cukup banyak karya film.
“Jadi bukan sekadar mengajarkan bagaimana sensor, film tetapi juga mengajarkan bagaimana atau melatih SDM kita untuk bisa melakukan sensor mandiri sebagaimana misi sosialisasi hari ini,” tandasnya.
Sementara itu, sosialisasi dengan tema “Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia” ini dihadiri Rektor Unkhair Ternate, perwakilan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), komunitas dan pegiat film, jurnalis, serta tenaga pendidik.
Wakil Ketua LSF Indonesia, Noorca M Massardi dalam sambutannya mengatakan, budaya nonton sesuai klasifikasi usia sudah dicanangkan sejak 5 tahun lalu.
“Gunanya kita mengajak masyarakat agar bijak memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia,” kata Noorca dalam sambutannya.
Menurut Noorca, di era digitalisasi sekarang ini, setiap orang bisa memilih tontonan apapun melalui smartphone, baik media sosial maupun aplikasi. Namun bersamaan dengan itu tidak ada yang mengawasi.
“Karena lembaga sensor film baru mengawasi film layar lebar dan program-program televisi melalui undang-undang tentang perfilman. Sementara yang ada di jaringan informatika itu dibawah kewenangan kementerian Kominfo melalui undang-undang penyiaran,” tutur Noorca.
Noorca bilang, sejauh ini belum ada payung hukum dari negara melalui kebudayaan maupun Kementerian Kominfo untuk mengawasi setiap konten tontonan di media sosial.
“Sehingga kita perlu mengingatkan dan mengimbau kepada masyarakat agar orang tua atau kakak-kakak mengawasi adiknya saat menonton di media sosial, agar tidak memilih tontonan di luar batas klasifikasi usianya,” timpal dia.
Budaya sensor mandiri ini, lanjut Noorca, perlu disosialisasikan secara luas. Sebab salah satu manfaatnya adalah untuk menghindari anak usia dini yang memilih tontonan film dewasa dan lain sebagainya.
“Kita perlu mengingatkan melalui masyarakat, kampus dan mahasiswa untuk menjaga keluarga dan anak-anak dari dampak dampak negatif dari tontonan,” pungkas dia. (kin)










Tinggalkan Balasan