Okebaik- Finka Prianita Tan, siswa SMP Negeri 12 Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara (Malut), dinyatakan meninggal dunia setelah terjatuh dari mobil pick up, Jumat (17/07/2026)

Finka merupakan warga Desa Tiowor, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara. Siswa kelas 3 di SMP N 12 Halut ini ke sekolah dengan menumpangi mobil Pick Up milik warga. Namun dalam perjalanan menuju ke sekolah, ia terjatuh dan dinyatakan meninggal dunia.

“Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi menjadi pengingat bahwa masih ada persoalan serius mengenai keselamatan transportasi bagi anak-anak sekolah di wilayah Kao Teluk,” ungkap Asrul Suabun selaku Ketua Komite SMP 12 Kao Teluk.

Menurut dia, ini sangat disayangkan, hingga saat ini masih banyak siswa yang harus mencari tumpangan sendiri setiap hari.

Mereka bergantung pada kendaraan bak terbuka, kendaraan pribadi warga, atau kendaraan lain yang sebenarnya tidak dirancang untuk mengangkut penumpang, apalagi anak-anak sekolah.

Kondisi ini lanjut dia, telah berlangsung lama dan seolah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menjamin pelayanan dasar kepada masyarakat, termasuk akses transportasi yang aman bagi peserta didik.

“Sementara di sisi lain, PT Nusa Halmahera Minerals (PT NHM), sebagai perusahaan besar yang beroperasi di wilayah ini dan mengusung komitmen tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), juga patut mengambil peran nyata dalam membantu menjawab kebutuhan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan pendidikan anak-anak,” urainya.

Lebih lanjut kata dia, pertanyaan yang patut diajukan adalah: mengapa hingga hari ini belum tersedia layanan bus sekolah yang layak bagi anak-anak di wilayah ini? Apakah harus menunggu korban berikutnya sebelum langkah konkret diambil? Tidak ada nilai ekonomi yang sebanding dengan nyawa seorang anak.

Kehilangan satu generasi muda akibat minimnya fasilitas transportasi yang aman merupakan tanggung jawab moral yang harus menjadi perhatian bersama. Sudah saatnya keselamatan anak-anak ditempatkan sebagai prioritas, bukan sekadar wacana setelah terjadi musibah.

Olehnya itu ia mendesak Pemerintah Daerah dan PT NHM untuk segera:

1. Menyediakan atau memfasilitasi operasional bus sekolah yang aman dan layak.

2. Menyusun solusi transportasi sekolah yang berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, sekolah, dan masyarakat.

3. Menjadikan keselamatan anak-anak sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan dan program CSR.

‘Semoga peristiwa tragis ini menjadi yang terakhir. Jangan biarkan anak-anak mempertaruhkan nyawanya hanya untuk memperoleh hak mereka atas pendidikan. Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita semua,” harapnya. (ata)